Mengenal Dangke (Keju Dari Enrekang) Makanan Tradisional Khas Kabupaten Enrekang

Mengenal Dangke (Keju Dari Enrekang) Makanan Tradisional Khas Kabupaten Enrekang

Mengenal Dangke (Keju Dari Enrekang) Makanan Tradisional Khas Kabupaten Enrekang 

dangke (keju tradisional khas enrekang)
Dangke (Keju Tradisional Enrekang)
Dangke adalah sejenis makanan bergizi yang dibuat dari susu kerbau. Kadang-kadang dangke juga dibuat dari susu sapi. Dangke dibuat di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Marzoeki, 1978). Daerah yang terkenal sebagai penghasil dangke di Kabupaten Enrekang adalah Kecamatan Cendana, Baraka, Anggeraja, dan Kecamatan Alla. Dangke telah dikenal sejak sebelum tahun 1905. Adapun nama dangke berasal dari bahasa Belanda, sewaktu orang Belanda melihat jenis makanan yang terbuat dari susu tersebut, mereka mengatakan “DANK WELL” yang artinya terima kasih. Rakyat yang mendengar kata dangke mengira itulah nama makanan tersebut.

Khususnya di Kabupaten Enrekang, susu sapi dan kerbau segar yang diperah sebagian besar diperuntukkan untuk pembuatan dangke dalam skala usaha rumah tangga. Untuk menghasilkan sebuah dangke berukuran setengah tempurung kelapa, dibutuhkan sekitar 1,25 – 1,50 liter susu segar, tergantung bangsa sapi, getah papaya dan garam melalui proses pemanasan/pemasakan yang selanjutnya dikemas menggunakan daun pisang (Isyana, 2012).
Kuantitas produksi yang dihasilkan tiap unit usaha rumah tangga bergantung pada jumlah induk laktasi yang dimiliki. Data yang tercatat pada Januari 2008 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 256 unit usaha pengolah dangke dan berdasarkan jumlah populasi yang ada sekarang (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Enrekang, 2009), dapat dihasilkan susu murni sekitar 672.000 liter/tahun yang diolah menjadi dangke. Dari tahun 2008 hingga pertengahan tahun 2009, tercatat angka produksi susu antara 3.287 sampai 3.376 liter/hari se-Kabupaten Enrekang. Jika diasumsikan untuk menghasilkan sebuah dangke dibutuhkan 1,5 liter susu segar, berarti sekitar 2000 dangke di produksi setiap harinya. Sebagai salah satu produk olahan susu, dangke memiliki nilai tambah (added value) tersendiri dari limbahnya yakni berupa whey dangke yang juga dapat diolah menjadi produk olahan bergizi tinggi lainnya, misalnya dalam bentuk nata de whey. Namun untuk saat ini, whey hanya dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai susu subtitusi (tambahan/pengganti) bagi pedet sapi perah (Isyana, 2012). Saat ini pemasaran dangke tidak hanya di daerah Sulawesi Selatan, tetapi bahkan sampai ke Kalimantan, Jakarta, Papua, Malaysia, dan daerah-daerah dimana komunitas masyarakat Enrekang berada (Marzoeki, 1978). Salah satu kendala yang dialami dalam pengembangan makanan tradisional tersebut adalah ketidakseragaman kualitas produk yang dihasilkan oleh masyarakat dan masa simpan produk yang masih cukup singkat sehingga relatif sulit dalam menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas. untuk proses pembuatannya anda bisa baca di link berikut Proses Pembuatan Dengke, Keju Tradisional Khas Enrekang
Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Berikanlah Komentar Anda Tentang Artikel Di atas
Berkomentar dengan sopan dan jangan lupa LIke FansPagenya
Jangan spam (komentar dengan link aktif), bila ada link aktif saya akan hapus komentar anda