PROPOSAL SKRIPSI  PERANAN EVALUASI BELAJAR DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

PROPOSAL SKRIPSI PERANAN EVALUASI BELAJAR DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

PROPOSAL SKRIPSI
PERANAN EVALUASI BELAJAR DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI MTS. DDI LAPEO KEC. CAMPALAGIAN, KAB. POLMAN


A. Latar Belakang Masalah

Dalam pembelajaran di sekolah dibutuhkan berbagai pengetahuan di seputar pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai yang diharapkan. Pengetahuan yang mendalam tentang faktor pendorong dan pemicu suksesnya proses pembelajaran di sekolah akan menciptakan suasana kondusif di sekolah, yakni suasana interaksi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

Dalam dunia pendidikan dikenal komponen-komponen yang terkait di dalamnya, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, metode pendidikan, situasi lingkungan.  Komponen tersebut senantiasa terlibat dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Namun, semua komponen di atas memerlukan evaluasi sehingga pendidikan dan pengajaran benar-benar berjalan sesuai yang diharapkan.

Dalam komponen guru menjadi banyak penentu dalam menjalankan pembelajaran di sekolah. Hal ini menunjukkan, sistem evaluasi harus diketahui oleh guru secara menyeluruh. Jika seorang guru merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pengajarannya, maka ia harus mengevaluasi pengajarannya itu agar ia mengetahui perubahan apa yang seharusnya diadakan. Evaluasi terhadap guru seharusnya ditentukan terutama oleh hasil evaluasi terhadap prestasi belajar siswa.
Dengan demikian, Guru harus mengajar dengan tujuan yang jelas dan harus mengetahui dalam bentuk apakah tujuan itu terwujud. Barulah ia dapat menilainya, hingga manakah tujuan itu tercapai oleh anak.  Apabila seorang guru tidak memperhatikan evaluasi dengan baik, maka ia akan gagal menjalankan tugasnya.
PROPOSAL SKRIPSI  PERANAN EVALUASI BELAJAR DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI MTS. DDI LAPEO KEC. CAMPALAGIAN, KAB. POLMAN

Evaluasi selalu memegang peranan yang penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif. Dengan evaluasi diperoleh balikan atau feed back yang dipakai untuk memperbaiki dan merevisi bahan atau metode pengajaran, evaluasi berguna untuk mengetahui pengajaran, atau untuk menyesuaikan bahan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Evaluasi berguna untuk mengetahui hingga manakah siswa telah mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan.  Evaluasi sangat berguna bagi kebutuhan siswa mengetahui sampai sejauhmana prestasi yang diperoleh setelah mengikuti pelajaran.

Pendidikan menjadi sorotan utama dalam peningkatan mutu sumber daya manusia. Mutu SDM dilahirkan oleh lembaga pendidikan yang bermutu atau sekolah bermutu. Jerome S. Arcaro menjelaskan model sekolah yang bermutu, harus ditopang oleh lima pilar, yaitu (1) berfokus pada pengguna; (2) keterlibatan secara total semua anggota; (3) melakukan pengukuran, (4) komitmen pada perubahan; dan (5) penyempurnaan secara terus-menerus.  Kelima pilar sekolah yang bermutu tersebut di atas mendeskripsikan bahwa interaksi edukatif seyogyanya berorientasi pada siswa, melibatkan semua sumber daya dan sumber dana, melakukan evaluasi dan pembenahan, komitmen pada perubahan dan kemajuan, serta selalu melakukan hal yang terbaik dan bernilai untuk proyeksi ke depan.

Melihat kondisi sekarang ini, mutu pendidikan di sekolah seringkali dilihat dari luarannya. Luaran sekolah yang dapat bersaing, apakah di dunia kerja atau di sekolah lanjutan, dianggap bahwa sekolah tersebut memiliki mutu atau keunggulan. Dalam program pembelajaran, mutu pendidikan dapat dilihat dari segi prosesnya. Apabila proses pendidikan dapat terlaksana secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan, maka pendidikan tersebut dapat dikatakan bermutu. Dalam pencapaian tujuan pendidikan, dibutuhkan evaluasi untuk mengukur dan menilai standar pencapaian pendidikan. Di sinilah perlunya evaluasi khususnya dalam pembelajaran dalam mengukur pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Maka melalui penelitian skripsi ini, akan dikaji peranan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah pokok dalam penulisan skripsi ini adalah “Sejauhmana peranan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman”. Masalah pokok di atas, dapat dijabarkan ke dalam sub pokok masalah, yaitu  sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem evaluasi belajar di Madrasah Tsanawiyah?
2. Bagaimana pengaruh antara evaluasi belajar dan peningkatan mutu pendidikan di MTs. DDI Lapeo Kec. Campalagian, Kab. Polman?

C. Hipotesis

Hipotesis pada prinsipnya merupakan jawaban atau dugaan sementara atas batasan masalah yang dikemukakan di atas. Perlunya hipotesis sebagai acuan di dalam melakukan penelitian dan pembahasan sehingga nantinya tercapai tujuan dan target dalam penelitian ini secara efektif dan efisien.

Dengan demikian, dari batasan masalah tersebut akan dikemukakan hipotesis sebagai berikut :
1. Setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah selalu diakhiri atau ditutup dengan evaluasi. Sistem evaluasi dalam pembelajaran di sekolah tentunya mengacu kepada tujuan pendidikan, kurikulum, sekolah, dan sebagainya, yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi murid, materi atau bahan ajar, metode atau media, lingkungan dan sebagainya.

2. Evaluasi pembelajaran cukup membantu dalam mengetahui sejauhmana hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan pelaksanaan evaluasi belajar yang efektif dan professional maka akan diketahui mutu pendidikan di sekolah, dan apabila evaluasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka tidak akan diketahui kelemahan dan kelebihan pembelajaran, hasil yang telah dicapai dan yang belum, faktor pendukung, sisi yang perlu dibenahi, dan sebagainya.


D. Defenisi Operasional Judul

Untuk mengetahui lebih jelas tentang maksud pembahasan skripsi ini, yaitu peranan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, maka cukup penting untuk menjelaskan pengertian judul terutama terhadap kata – kata operasional yang mungkin dapat menimbulkan pengertian dan penafsiran ganda. Dengan adanya pengertian judul ini, dimaksudkan untuk terciptanya persamaan pandangan dalam mengetahui dan memahami sebagai landasan pokok dalam mengembangkan masalah pembahasan selanjutnya.

1.  Pengaruh Evaluasi Belajar
a. Pengaruh merupakan suatu hubungan yang mengandung keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya yang memberikan efek antara yang satu dengan yang lainnya.
b. Evaluasi merupakan pertimbangan professional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu,
c. Belajar adalah berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu ketrampilan.
Dengan demikian, pengaruh evaluasi belajar merupakan efek atau akibat dari suatu kegiatan penilaian pembelajaran.


2. Mutu pendidikan
a. Mutu merupakan ukuran baik buruk suatu benda; kadar; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya).
b. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
c. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang  atau kelompok orang untuk mendewasakan manusia  melalui upaya pengakaran dan pelatihan. .
Dari pengertian yang dijelaskan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa judul “peranan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman” memiliki pengertian sejauhmana peranan dan kontribusi evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan pada MTs. DDI Lapeo Kec. Campalagian, Kab. Polman.



E. Tinjauan Pustaka

Setiap kegiatan, apapun bentuknya, pasti memiliki evaluasi. Evaluasi tersebut dapat bersifat terstruktur ataupun tidak terstruktur. Evaluasi merupakan melakukan peninjauan kembali atas apa yang dilakukan, apakah tercapai target atau belum. Kalau target tercapai apa sudah efektif pelaksanaannya atau belum. Kalau belum tercapai target, apanya yang menjadi penghambat, dimana kelemahan dan sebagainya. Olehnya itu, evaluasi merupakan pertimbangan professional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu,  begitu juga di dalam pendidikan, senantiasa dilakukan evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran.
Berbagai bentuk yng dievaluasi dalam setiap kegiatan, apakah dari segi prosesnya, factor pemicunya, medianya, metodenya, sumber data edukasinya, dan sebagainya. Dengan demikian, evaluasi menjadi gambaran umum tentang seluruh rangkaian suatu kegiatan atau aktivitas. Evaluasi hendaknya merupakan deskripsi yang jelas atau menunjukkan hubungan sebab-sebab akibat tetapi tidak memberikan penilaian. Untuk memperkara deskripsi, evaluator dapat mengajukan asumsi-asumsi yang didukung oleh data.
Dalam dunia pendidikan, evaluasi sangat penting untuk melakukan croshcheck kegiatan. Fungsi evaluasi bersifat kondisional, tergantung siapa evaluatornya, apa kecenderungannya, siapa yang diaevaluasi, dan sebagainya. Dengan demikian, akan dikemukakan fungsi evaluasi pendidikan:
a. Fungsi selektif.
b. Fungsi diagnostik.
c. Fungsi penempatan.
d. Fungsi keberhasilan pengukuran.

Fungsi tersebut menunjukkan bahwa evaluasi memiliki fungsi selektif, yakni dilakukan seleksi yang ketat dalam menerima mahasiswa baru di perguruan tinggi. Fungsi diagnostik merupakan evaluasi untuk mengukut tingkat kemampuan siswa. Fungsi penempatan merupakan untuk mengetahui apa bakat, minat, kecenderungan dan potensi peserta didik lalu itu yang dikembangkan. Fungsi keberhasilan pengukuran merupakan evaluasi sebagai alat untuk mengetahui tingkat daya serap siswa dan prestasinya setelah dilakukan proses pembelajaran. Fungsi evaluasi ini akan menjadi landasan yang fundamen, bahwa sistem evaluasi yang diterapkan dalam pendidikan agama Islam memerlukan prosedur yang sistematis. Adapun langkah-langkah pokok prosedur pelaksanaan evaluasi adalah sebagai berikut:
1. Langkah perencanaan (termasuk perumusan kriterium).
2. Langkah pengumpulan data.
3. Langkah persifikasi data.
4. Langkah pengolahan data.
5. Langkah penafsiran data.

Penerapan evaluasi pendidikan agama Islam perlu direncanakan dengan matang. Evaluasi disusun berdasarkan berbagai pertimbangan, di antaranya adalah standar kompetensi mata pelajaran, kemampuan dan kondisi peserta didik, materi pokok pembelajaran, alokasi waktu, dan sebagainya. Kemudian, dalam mengukur keberhasilan belajar siswa, ada beberapa kategori kemampuan peserta didik yang perlu dipertimbangkan. Adapun kategori kemampuan belajar yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Kemampuan intelektual: kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan lambing, ketrampilan ini meliput;
1. Asosiasi dan mata rantai: menghubungkan suatu lambing dengan suatu fakta atau kejadian.
2. Diskriminasi; membendakan suatu lambing dengan lambing lain.
3. Konsep; mendefenisikan suatu pengertian atau prosedur.
4. Kaidah: mengkombinasikan beberapa konsep dengan suatu cara.
5. Kaidah lebih tinggi: menggunakan berbagai kaidah dalam memecahkan masalah.
b. Siasat kognitif: ketrampilan si belajar untuk mengatur proses internal perhatian, belajar, ingatan, dan pikiran.
c. Informasi verbal: ketrampilan untuk mengenal dan menyimpan nama atau istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan kumpulan pengetahuan.
d. Ketrampilan motorik keutuhan gerakan yang mulus, teratur, dan tepatw akti.
e. Sikap: keadaan diri si belajar yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas) pilihan untuk bertindak. Sikap ini meliputi komponen afektif (emosional), aspek kognitif, dan unjuk perbuatan.

Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam melakukan evaluasi dalam pendidikan Islam harus dilakukan secara menyeluruh. Semua yang terkait dengan aspek perkembangan pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab XVI tentang Evaluasi, Akreditasi, dan sertifikasi, Pasal 58, ayat 1 berbunyi bahwa : Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
Adapun secara detail aspek yang perlu dievaluasi dalam pendidikan agama Islam telah dikemukakan dalam Peraturan Pemerintah RI, Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab XII, Pasal 79, ayat 2, bahwa evaluasi yang dilakukan pada tingkat satuan pendidikan adalah:

1. Tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
2. Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler.
3. Hasil belajar peserta didik; dan
4. Realisasi anggaran.

Keempat aspek yang dievaluasi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan evaluasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahkan lebih jauh lagi, aspek anggaran pembelajaran pun perlu dikaji apa sudah memenuhi standar pembelajaran atau belum. Hal ini akan menjadi suatu mekanisme perencanaan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Apabila terkait dengan persoalan kebijakan pendidikan, maka pelaksanaan evaluasi perlu ditetapkan sistem sebagai patron pelaksanaan pembelajaran. Adapun sistem evaluasi dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problem yang dihadapi.
2. Untuk mengetahui sejauhmana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rasulullah Saw. Kepada umatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang.
4. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan kepadanya.
5. Memberikan penghargaan kepada yang berhasil dan sanksi bagi menyimpang.

Dalam pendidikan agama Islam menginginkan peserta didik untuk hidup yang Islami. Kegiatan keseharian yang diwarnai dengan ketaqwaan sesuai tuntunan Rasulullah Saw., daya kognisi yang tinggi, hafalan yang kuat, serta senantiasa menghargai karya orang lain. Untuk memahami sampai sejauhmana pencapaian target pembelajaran pendidikan agama Islam, perlu diketahui sifat evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Kuantitatif, yaitu hasil evaluasi yang diberikan skor atau nilai dalam bentuk angka, misalnya 50. 75, 10, 8, 4, dan sebagainya.
2. Kuaitatif,yaitu hasil evaluasi yang diberikan dalam bentuk pernyataan verbal, misalnya memuaskan, baik, cukup, dan kurang.

Kemudian, penggunaan sifat evaluasi tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek apa yang mau dievaluasi. Guru perlu lebih cermat apakah sifat evaluasi yang digunakan sesuai dengan aspek yang ingin diukur. Hal ini untuk melihat ketepatan penggunaan jenis evaluasi dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, ada beberapa teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Teknik tes, yaitu teknik yang digunakan untuk menilai kemampuan anak didik, meliputi pengetahuan dan ketrampilan sebagai hasil belajar, serta bakat khusus dan inteligensinya. Teknik ini terdiri atas:

a. Uraian (essay test)
1) Uraian bebas (free essay)
2) Uraian terbatas (limited essay)
b. Objektive tes
1) Betul-salah (true-false)
2) Pilihan ganda (multiple choice)
3) Menjodohkan (Matching)
4) Isian (completion)
5) Jawaban singkat (short answer)
c. Bentuk tes lain
1) Bentuk ikhtisar
2) Bentuk laporan
3) Bentuk khusus dalam pelajaran bahasa
2. Non-tes, yakni untuk digunakan menilai karakteristik lainnya, misalnya minat, sikap, kepribadian siswa, dan sebagainya. Teknik ini meliputi:
a. Observasi terkontrol.
b. Wawancara
c. Inventory
d. Questionaire
e. Anecdotal accounts.
Sedangkan jenis evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:
1. Tes tertulis.
2. Tes Lisan
3. Tes perbuatan

Kemudian pada prinsipnya, standar kompetensi pelajaran adalah domainnya masalah aspek kognisi, maka yang tepat adalah sistem evaluasi yang bersifat tertulis dan tidak tertulis. Hal tersebut, senada dengan pendapat Zuhairini bahwa aspek kognitif biasanya menggunakan tes tertulis maupun lisan, sedangkan aspek psikomotorik biasanya menggunakan tes perbuatan.

Pemaparan tersebut di atas menunjukkan bahwa sebelum evaluasi diterapkan, dipandang perlu evaluasi tersebut direncanakan dengan baik. Kemudian, penyusunan evaluasi perlu mempertimbangkan faktor standar kompetensi, materi pokok pembelajaran, sumber belajar, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, dan sebagainya. Apabila penyusunan evaluasi dilakukan berdasarkan komponen pembelajaran tersebut akan mewujudkan sistem pembelajaran yang efektif dan efisien. Pembelajaran yang efektif dan efisien akan menjadi pemicu bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

F.  Metode Penelitian

1. Desain dan Variabel Penelitian.
Sebelum membahas lebih jauh dalam skripsi ini, maka dipandang perlu pengklasifikasian variable yang terdapat dalam judul. Variabel penelitian ini terdiri atas; pertama, peranan evaluasi belajar di sekolah, dan; kedua, peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kec. Campalagian, Kab. Polman.  Oleh karena itu, peranan evaluasi belajar di sekolah merupakan variabel independen sedangkan peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kec. Campalagian, Kab. Polman merupakan variabel dependen.

Selanjutnya dalam penelitian ini menggunakan model atau desain penelitian dalam bentuk deskriptif kualitatif, yaitu rencana dan struktur penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian berupa data deskriptif kualitatif. Studi ini dilaksanakan guna mempelajari secara mendalam mengenai sistem evaluasi dalam pembelajaran di sekolah dan peranannya terhadap peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kec. Campalagian, Kab. Polman.


2. Populasi dan Sampel
Secara umum, populasi ialah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian.

Kemudian dalam penelitian ini, yang menjadi populasi sebagai obyek kajian adalah lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo. Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo yang menjadi obyek penelitian ialah guru Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, serta hal-hal yang berkaitan dengan proses pendidikan di madrasah tersebut yang dapat memberikan informasi atau data demi penyempurnaan data-data yang diteliti.
Karena kecilnya populasi penelitian ini, maka populasi penelitian sekaligus dijadikan sebagai sampel.

3. Teknik Pengumpulan Data.
Dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu sebagai berikut :

a. Penelitian Kepustakaan (library research)
Penelitian kepustakaan yaitu suatu metode penelitian dengan cara membaca dan menelaah buku-buku kepustakaan dan sumber-sumber yang bersifat tekstual yang ada dan erat hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
Dalam penelitian kepustakaan, ditempuh dua cara, yaitu :

a. Kutipan langsung.
Kutipan langsung yaitu dikutip isi buku atau sumber-sumber yang bersifat tekstual yang dibaca tersebut dengan tidak merubah sifat dan redaksi aslinya.
b. Kutipan tidak langsung.
Kutipan tidak langsung yaitu dikutip isi buku atau sumber-sumber yang bersifat tekstual yang dibaca tersebut, dengan membuat catatan yang agak lebih pendek dari redaksi aslinya, namun tidak merubah tujuan, sifat dan substansi dari bahan aslinya.
b. Penelitian Lapangan (field research)
Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan dimana turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data dari kalangan pimpinan sekolah, guru serta melakukan observasi kepada siswa-siswa pada Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo.
Adapun metode yang dipergunakan untuk memperoleh data di lapangan, yaitu sebagai berikut :
a. Interview.
Metode interview yaitu mengadakan wawancara dengan guru-guru pengajar, serta komponen-komponen yang terkait dengan sekolah tersebut, kemudian Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo. Wawancara dilakukan terkait dengan pelaksanaan pembelajaran pendidikan di madrasah tersebut, dan bentuk evaluasi yang diterapkan selama ini, serta bagaimana bentuk peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pihak Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo.
b. Observasi.
Metode observasi yaitu metode penelitian dengan cara mengumpulkan sejumlah data, kemudian mengamati bagaimana sistem pembelajaran dan sistem evaluasi yang diterapkan oleh guru pada Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo sehingga dapat memicu bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut.
c. Dokumentasi.
Metode dokumentasi yaitu dilakukan dengan mengumpulkan data dari dokumen atau catatan-catatan yang ada di lokasi penelitian kemudian dikutip dalam bentuk tabel.
d. Angket.
Metode angket yaitu metode questioner, dalam hal ini penulis membagikan daftar pertanyaan kepada guru-guru Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo. Daftar pertanyaan melalui angket dibahas tentang sistem evaluasi belajar yang diterapkan dalam proses pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, kemudian bentuk-bentuk peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pihak sekolah.

4. Instrumen Penelitian
Adapaun instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti, yakni terdiri dari pedoman observasi, pedoman angket, serta pedoman wawancara. Penggunaan instrumen tersebut adalah untuk mempermudah peneliti dalam memperoleh dan mendapatkan data, informasi dan pengetahuan yang berhubungan objek penelitian sehingga dapat merangkum data dan informasi yang obyektif. Dengan adanya data dan informasi yang objektif, maka sangat membantu penulis dalam mengolah dan menganalisis data sehingga hasil yang ditemukan dapat dipertanggungjawabkan dan juga dapat memberikan jaminan hasil penelitian yang akurat dan valid.

5. Teknik Analisis dan Pengolahan Data
Data yang terkumpul, penulis olah dengan menempuh cara, yaitu sebagai berikut :
a. Kualitatif.
Pendekatan kualitatif yaitu dilakukan dengan menitikberatkan pembahasan skripsi pada segi-segi nilai  kemudian disusun atau dikumpul secara baik dan teratur lalu dianalisis.
b. Kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif yaitu dilakukan dengan menitikberatkan pembahasan skripsi yang berupa presentase lalu dianalisis.
Adapun metode yang digunakan  dalam menganalisis data yang terkumpul tersebut adalah sebagai berikut
1. Induktif.
Metode induktif yaitu suatu cara berfikir dengan memecahkan persoalan yang bertitik tolak dari pengalaman atau pengetahuan yang khusus dan fakta-fakta tertentu, yang kemudian penulis mengemukakan suatu kesimpulan  yang bersifat umum.
2. Deduktif.
Metode deduktif yaitu suatu cara berpikir dengan memecahkan persoalan yang bertolak dari hal dasar serta kaedah-kaedah umum, kemudian menganalisis atau menjabarkannya ke hal-hal yang khusus.
3. Komparatif.
Metode komparatif yaitu suatu cara berpikir dengan menganalisis data dan mengambil kesimpulan dengan terlebih dahulu membandingkan antara beberapa pendapat atau beberapa data yang ada.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Setiap kegiatan pasti memiliki tujuan, begitu juga dalam penelitian ini, sebab tujuan merupakan suatu target yang diharapkan dapat tercapai setelah kegiatan penelitian berakhir. Oleh karena itu, penelitian ini adalah suatu usaha dan kegiatan yang berproses secara bertahap yang mempunyai tujuan dan kegunaan.

1. Tujuan Penelitian.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam kajian ini membahas tentang peranan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Kec. Campalagian, Polman, diharapkan dapat:

a. Mengetahui sistem dan mekanisme evaluasi pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan konteks madrasah tsanawiyah.
b. Mendapatkan informasi tentang sistem evaluasi belajar yang diterapkan dalam proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan pada Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Campalagian.
c. Mendapatkan informasi tentang pengaruh dan kontribusi yang diberikan evaluasi belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di Madrasah Tsanawiyah DDI Lapeo, Campalagian.

2. Kegunaan Penelitian.
Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :
a. Bagi pelaksana pendidikan di sekolah dalam mengembangkan sistem evaluasi pendidikan yang sesuai dengan dasar ajaran Islam, kebutuhan peserta didik, tuntutan zaman, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
b. Bagi guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pendidikan agama Islam senantiasa melakukan evaluasi yang berpihak kepada peningkatan mutu proses dan luaran pendidikan.
c. Bagi orang tua atau pihak yang berkepentingan (stakeholder) agar dapat menjadi bahan pemikiran dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah melalui proses evaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran.

H. Garis – garis Besar Isi Skripsi.

Sebagai suatu karya ilmiah, rancangan skripsi ini dimulai dengan bab pertama yang di dalamnya dibahas pendahuluan yang mencakup latar belakang dan batasan masalah, kemudian hipotesis, lalu dijelaskan defenisi operasional yang menjadi garapan penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian yang diharapkan penulis serta diuraikan garis – garis besar isi skripsi.

Pada bab kedua, selanjutnya akan dibahas tentang tinjauan pustaka dalam penelitian ini. Akan diuraikan pengertian evaluasi belajar, sistem evaluasi dalam pembelajaran di madrasah tsanawiyah, dan peranan evaluasi  belajar dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah
Pada bab selanjutnya, dibahas tentang metode penelitian yang akan digunakan oleh peneliti. Peneliti akan membahas desain dan variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen yang digunakan serta metode yang diterapkan dalam mengolah data.

 Pada bab keempat, penulis mengkaji gambaran umum secara singkat tentang profil MTs. DDI Lapeo Kec. Campalagian, Kab. Polman yang dijadikan obyek penelitian, kemudian penyajian dan interpretasi data serta pengujian hipotesis. Pada bab ini, data yang dihimpun dikelola dan dianalisa baik secara kualitatif maupun kuantitatif lalu dihubungkan dengan hipotesis yang telah disusun.
Pada bab terakhir sebagai bab penutup berisi tentang beberapa kesimpulan umum dan saran yang berkaitan dengan pengaruh evaluasi pelajaran Pendidikan Agama Islam dan hubungannya dengan peningkatan motivasi belajar siswa di MTs. DDI Lapeo Kec. Campalagian, Kab. Polman.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Penilaian Program Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1988)

Danim, Sudarwan, Visi Baru Manajemen Sekolah: dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Daryanto, H., Evaluasi Pendidikan, (Cet. II, Jakarta: Rineka Cipta, 2001)

Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan, (Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam, 2006)

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III, (Cet. 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2005)

Ihsan, H. Fuad, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)

Marhiyanto, Bambang, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, ( Surabaya : Media Centre, t.th.)

Miarso, Yudufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Edisi I, (Cet. I, Jakarta: Kencana), 2004)

Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam – Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993)

Nashar, H., Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran, (Jakarta: Delia Press, 2004)

Nasution, S., Didaktik Asas-asas Mengajar, Edisi II, (Cet. III, Jakarta: Bumi Aksara, 2004)

------------, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (Cet. VIII, Jakarta: Bumi Aksara, 2003)

Nawawi, H. Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. VII, ( Yogyakarta : Gadjah Mada University, 1995 )

Popham W. James, & Eva L. Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, diterjemahkan oleh Amirul Hadi dkk., (Cet. IV, Jakarta: Rineka Cipta. 2005)

Silverius, Suke, Evaluasi Belajar dan Umpan Balik, (Jakarta: PT. Grasindo, 1991)

Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981)

Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Berikanlah Komentar Anda Tentang Artikel Di atas
Berkomentar dengan sopan dan jangan lupa LIke FansPagenya
Jangan spam (komentar dengan link aktif), bila ada link aktif saya akan hapus komentar anda